6 Jenis Luaran Penelitian Hibah Dosen Kemdiktisaintek 2026

luaran penelitian hibah

Penelitian hibah dosen tidak berhenti pada selesainya proses riset. Ada target luaran penelitian hibah yang perlu disiapkan agar hasil penelitianmu punya bentuk dan arah yang jelas. Nah, apa saja luaran yang bisa dipilih dosen pada program Kemdiktisaintek 2026? Yuk, simak sampai akhir supaya kamu bisa menentukan luaran yang paling sesuai dengan penelitianmu. 

Mengapa Penting Menentukan Luaran Penelitian?

Luaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan penelitian karena menunjukkan bentuk hasil yang ingin dicapai dari kegiatan riset. Jadi, sejak menyusun proposal hibah penelitian, kamu tidak hanya memikirkan masalah, metode, dan anggaran, tetapi juga perlu menentukan hasil akhirnya akan diwujudkan dalam bentuk apa.

Penentuan luaran juga membantu kamu menyusun alur penelitian secara lebih terarah. Misalnya, penelitian yang menargetkan artikel jurnal tentu membutuhkan strategi publikasi yang berbeda dengan riset yang diarahkan untuk menghasilkan prototipe, model, atau dokumen kebijakan.

Selain itu, kesesuaian antara kegiatan penelitian dan target luaran ikut menjadi perhatian dalam pelaksanaan hibah. Pada program pendanaan 2026, revisi proposal dan RAB bahkan perlu menyelaraskan kegiatan, jadwal, serta target luaran berdasarkan catatan atau rekomendasi reviewer. Artinya, luaran bukan sekadar formalitas di bagian akhir, tetapi perlu dipikirkan sejak riset dirancang.

Baca Juga:

6 Jenis Luaran Penelitian Hibah

Berikut 6 jenis luaran penelitian hibah yang perlu kamu pahami:

1. Artikel Jurnal Bereputasi Nasional

Salah satu bentuk hasil penelitian hibah yang paling umum adalah artikel ilmiah yang diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi. Dalam panduan, kategori ini mencakup artikel yang dipublikasikan pada jurnal dengan peringkat SINTA 1 sampai SINTA 6.

Kalau kamu memilih luaran ini, sejak awal penelitian sebaiknya sudah mempertimbangkan jurnal tujuan. Topik, metode, kedalaman pembahasan, hingga format artikel perlu diarahkan agar hasil penelitian nantinya sesuai dengan ruang lingkup dan standar jurnal yang dituju.

2. Artikel Jurnal Bereputasi Internasional

Luaran berikutnya adalah artikel yang diterbitkan pada jurnal yang terindeks dalam pemeringkat internasional seperti Web of Science, Scopus, atau PubMed. Jurnal nasional peringkat SINTA 1 atau SINTA 2 yang juga masuk dalam indeks tersebut juga dapat termasuk kategori ini.

Target ini tentu membutuhkan persiapan yang lebih matang, terutama jika penelitian ditujukan untuk jurnal internasional. Kamu perlu memperhatikan kebaruan penelitian, kualitas data, kekuatan pembahasan, serta kesesuaian naskah dengan standar jurnal yang dituju.

Bukan berarti penelitian harus selalu menggunakan bahasa yang rumit. Justru, argumen utama, kontribusi penelitian, dan temuan yang ditawarkan perlu disampaikan dengan jelas agar dapat dipahami oleh pembaca dari konteks keilmuan yang lebih luas.

3. Model Hasil Penelitian

Tidak semua riset harus berakhir sebagai artikel jurnal. Jika hasil penelitian lebih cocok diwujudkan sebagai model, konsep, sistem, atau inovasi sosial, bentuk tersebut dapat diarahkan menjadi luaran penelitian.

Model hasil penelitian dapat berupa model, konsep, sistem, termasuk program komputer, atau inovasi sosial yang didaftarkan sebagai Hak Cipta. Sementara itu, metode, sistem, atau strategi tertentu dapat diarahkan untuk didaftarkan sebagai Paten.

Artinya, kamu perlu melihat karakter hasil riset sebelum menentukan luaran. Jika penelitian menghasilkan solusi yang dapat digunakan atau dikembangkan lebih lanjut, model atau sistem bisa menjadi pilihan yang lebih tepat dibanding memaksakannya menjadi artikel semata.

4. Prototipe atau Purwarupa Hasil Penelitian

Untuk penelitian yang berorientasi pada pengembangan produk atau teknologi, prototipe atau purwarupa dapat menjadi salah satu bentuk luaran hasil hibah. Bentuknya cukup luas, termasuk:

  1. Material biologis, 
  2. Spesimen atau kekayaan hayati, 
  3. Temuan senyawa atau sequence DNA, 
  4. Protokol riset keanekaragaman hayati, 
  5. Purwarupa yang sudah diarahkan untuk kebutuhan industri.

Kategori ini juga mencakup galur perbaikan, benih atau bibit unggul, varietas atau strain hasil propagasi, serta jenis fauna hasil penangkaran, domestikasi, dan breeding. Bentuk kekayaan intelektualnya dapat berbeda sesuai karakter hasil penelitian, seperti Paten, Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (DTLST), atau Indikasi Geografis.

Karena prosesnya berkaitan dengan pengembangan produk dan kekayaan intelektual, target prototipe sebaiknya tidak ditentukan secara asal. Kamu perlu memastikan bentuk hasil penelitian, tahapan pengembangan, dan jenis KI yang akan didaftarkan memang saling mendukung.

5. Naskah Akademik/Policy Brief

Penelitian yang berkaitan dengan persoalan publik juga dapat menghasilkan naskah akademik atau policy brief. Luaran ini cocok ketika temuan penelitian tidak berhenti sebagai pengetahuan akademik, tetapi dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pemangku kepentingan.

Dalam panduan, naskah akademik atau policy brief yang menjadi target luaran sudah masuk tahap pembahasan dengan pemangku kepentingan minimal tingkat provinsi, baik pada lembaga legislatif maupun eksekutif. Jadi, hasil penelitian perlu memiliki jalur yang jelas menuju pihak yang berpotensi menggunakan rekomendasi tersebut.

6. Feasibility Study

Feasibility study atau studi kelayakan menjadi pilihan untuk penelitian yang mengarah pada pengembangan produk. Laporan yang dihasilkan berisi analisis mengenai kebutuhan pelanggan dan kondisi pasar dari produk yang sedang dikembangkan.

Luaran ini membuat hasil riset tidak berhenti pada pertanyaan “apakah produk bisa dibuat?”, tetapi bergerak ke pertanyaan yang lebih praktis: apakah produk tersebut dibutuhkan, memiliki peluang pasar, dan layak untuk dikembangkan?

Karena itu, penelitian yang menargetkan feasibility study perlu mengumpulkan informasi yang mendukung analisis kebutuhan dan kondisi pasar. Hasilnya kemudian dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah pengembangan produk berikutnya.

Baca Juga:

Tips Memilih Luaran yang Sesuai

Banyaknya pilihan luaran justru membuat kamu perlu lebih cermat saat menentukan target. Jangan memilih hanya karena bentuknya terlihat paling mudah, tetapi sesuaikan dengan skema, karakter penelitian, dan kemungkinan hasilnya benar-benar digunakan.

1. Sesuaikan dengan Skema

Setiap skema penelitian memiliki karakter dan target yang perlu diperhatikan. Karena itu, sebelum menetapkan luaran, kamu perlu membaca panduan pada skema yang dipilih dan mencocokkannya dengan rencana penelitian yang akan dijalankan.

Jangan sampai target luaran sudah dibuat menarik, tetapi tidak sejalan dengan ketentuan skema. Pada pelaksanaan program 2026, target luaran juga menjadi bagian yang perlu diselaraskan ketika proposal dan RAB direvisi berdasarkan masukan reviewer.

2. Sesuaikan Luaran Penelitian Sesuai Bidang Keilmuan

Karakter setiap bidang ilmu membuat bentuk hasil penelitian bisa berbeda. Penelitian sosial, misalnya, mungkin lebih cocok menghasilkan artikel, model sosial, atau policy brief, sedangkan penelitian teknologi dapat lebih kuat jika diarahkan pada prototipe atau sistem.

Kamu juga bisa melihat hasil yang paling realistis dicapai berdasarkan metode penelitian. Jangan memaksakan target berupa produk fisik jika penelitian yang dilakukan memang lebih kuat menghasilkan temuan konseptual atau rekomendasi kebijakan.

3. Pilih Luaran Penelitian yang Berdampak Nyata

Luaran yang baik bukan hanya yang berhasil dicentang sebagai target, tetapi juga yang memiliki peluang digunakan setelah penelitian selesai. Karena itu, coba lihat siapa yang akan mendapatkan manfaat dari hasil risetmu dan masalah apa yang bisa dibantu diselesaikan. Pendekatan ini juga sejalan dengan arah pengembangan riset yang semakin menekankan relevansi dan dampak.

4. Hindari Kesalahan Umum

Kesalahan dalam menentukan luaran sering kali bukan karena penelitianmu kurang bagus, tetapi karena target yang dipilih tidak benar-benar terhubung dengan rancangan penelitian. Sebelum proposal diajukan, coba cek kembali apakah luaran yang dipilih memang realistis dicapai dengan waktu, metode, sumber daya, dan anggaran yang tersedia.

Beberapa kesalahan yang sebaiknya kamu hindari antara lain:

  • Memilih luaran tanpa melihat ketentuan skema. 
  • Menentukan luaran setelah penelitian berjalan. Idealnya, target sudah menjadi bagian dari perencanaan sejak proposal disusun.
  • Tidak menyesuaikan luaran dengan metode penelitian. 
  • Menargetkan terlalu banyak hal tanpa strategi yang jelas. Lebih baik memilih luaran yang realistis dan berkualitas daripada membuat target yang sulit dicapai.
  • Mengabaikan proses setelah hasil penelitian diperoleh. Artikel perlu diarahkan ke jurnal yang sesuai, sedangkan produk atau model perlu dipikirkan jalur pendaftaran KI atau pemanfaatannya.
  • Tidak mengecek kembali capaian luaran. Luaran yang tidak sesuai kriteria dapat bermasalah ketika masuk tahap validasi. Kemdiktisaintek pada 2026 juga mengingatkan bahwa luaran yang tidak memenuhi kriteria valid dapat berstatus tidak valid dan perlu diperbaiki pada periode validasi berikutnya.

Nah, setelah membaca pembahasan ini, kamu sudah punya gambaran mau memilih luaran penelitian hibah yang mana? Tinggal sesuaikan dengan skema, bidang keilmuan, dan hasil penelitian yang ingin kamu capai agar luaran yang dipilih bukan cuma memenuhi target, tetapi juga benar-benar bisa dimanfaatkan. 

Sumber: 

“Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat 2026.” Ditjen Risbang Kemendiktisaintek, 2025, https://drive.google.com/file/d/1cH6q41ikJ5Swc1E8xm7Ut9wrmTCsNm0Y/view.

Picture of Wahyu Adji
Wahyu Adji
Saya merupakan SEO Specialist dan Conten Writer Profesional di bidang pendidikan seputar kampus, mahasiswa dan kedosenan di penerbit buku Deepublish

Tinggalkan Komentar