Terbit di SINTA 1 VS Scopus 4, Mana yang Lebih Unggul?

SINTA 1 scopus 4

Bagi Anda yang aktif di dunia akademik, isu publikasi ilmiah hampir selalu menjadi topik hangat. Tidak sedikit dosen yang masih bertanya-tanya tentang SINTA 1 Vs Scopus 4, terutama saat harus menentukan target publikasi yang tepat untuk kebutuhan BKD dan angka kredit. Wajar saja, karena keduanya sama-sama prestisius, tetapi memiliki karakter dan dampak yang berbeda bagi perjalanan karier akademik Anda.

Mengenal SINTA 1 dan Scopus 4

SINTA (Science and Technology Index) merupakan sistem indeksasi jurnal nasional yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. SINTA 1 berada pada peringkat tertinggi dalam klasifikasi jurnal nasional dan mencerminkan kualitas pengelolaan serta substansi artikel yang sangat baik. Jurnal pada level ini umumnya telah melalui proses kurasi dan evaluasi yang ketat.

Sementara itu, Scopus adalah basis data sitasi internasional yang dikelola oleh Elsevier. Scopus Q4 menempati kuartil keempat dalam pengelompokan jurnal berdasarkan impact dan sitasi pada bidang tertentu. Meski berada di Q4, jurnal Scopus tetap diakui secara internasional dan menjadi rujukan penting dalam publikasi global.

Baik SINTA 1 maupun Scopus 4 memiliki standar penilaian yang jelas dan sistematis. Keduanya menuntut konsistensi kualitas artikel, kepatuhan pada etika publikasi, serta proses peer review yang transparan.

Perbandingan SINTA 1 dan Scopus 4

Untuk memahami isu SINTA 1 Vs Scopus 4 secara lebih utuh, Anda perlu melihatnya dari berbagai aspek. Perbandingan ini bukan untuk mencari mana yang “paling benar”, melainkan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda sebagai dosen.

1. Ruang Lingkup dan Pengakuan

SINTA 1 memiliki lingkup nasional dengan pengakuan yang sangat kuat di Indonesia. Jurnal SINTA 1 sering menjadi rujukan utama dalam kebijakan akademik, akreditasi, dan evaluasi kinerja dosen.

Sebaliknya, Scopus 4 menawarkan pengakuan internasional karena terindeks dalam basis data global. Publikasi pada jurnal Scopus memungkinkan artikel Anda dibaca dan disitasi oleh peneliti dari berbagai negara.

2. Standarisasi dan Proses Publikasi

Jurnal SINTA 1 menerapkan standar penulisan ilmiah yang ketat, baik dari sisi metodologi maupun relevansi topik dengan konteks nasional. Proses review biasanya fokus pada kontribusi riset terhadap pengembangan ilmu di Indonesia.

Pada Scopus 4, standar publikasi menekankan pada kebaruan riset dan relevansi global. Proses peer review cenderung lebih variatif karena melibatkan reviewer dari latar belakang internasional.

3. Akses dan Target Pembaca

Artikel di jurnal SINTA 1 umumnya lebih mudah diakses oleh akademisi dalam negeri. Hal ini membuat hasil riset lebih cepat dimanfaatkan oleh praktisi, mahasiswa, dan dosen di Indonesia.

Sementara itu, Scopus 4 memiliki jangkauan pembaca yang lebih luas secara internasional. Publikasi di sini membuka peluang kolaborasi lintas negara dan peningkatan visibilitas penulis di tingkat global.

4. Relevansi dengan Regulasi Akademik

SINTA 1 sangat relevan dengan kebijakan nasional, terutama dalam penilaian kinerja dosen dan akreditasi program studi. Banyak perguruan tinggi menjadikan SINTA 1 sebagai target minimal publikasi.

Di sisi lain, Scopus 4 sering diposisikan sebagai indikator internasionalisasi institusi. Publikasi Scopus menjadi nilai tambah bagi dosen yang ingin memperluas rekam jejak akademiknya.

Pengaruh Terhadap BKD dan Angka Kredit Dosen

Dalam pelaporan Beban Kerja Dosen (BKD), publikasi ilmiah menjadi salah satu komponen utama pada unsur penelitian. Baik artikel yang terbit di jurnal SINTA 1 maupun Scopus 4 sama-sama diakui secara resmi dan dapat dilaporkan sebagai luaran penelitian. Artinya, dari sisi pemenuhan kewajiban Tri Dharma, keduanya memiliki posisi yang setara dan sah.

Perbedaannya mulai terasa ketika publikasi tersebut dikaitkan dengan perolehan angka kredit jabatan fungsional dosen. Jurnal SINTA 1 umumnya memberikan angka kredit yang cukup signifikan, terutama bagi dosen dengan fokus pengembangan karier akademik di tingkat nasional. Bagi banyak dosen di Jakarta, SINTA 1 sering menjadi pilihan realistis karena selaras dengan kebutuhan institusi dan regulasi dalam negeri.

Sementara itu, publikasi pada jurnal Scopus 4 sering dinilai memiliki bobot strategis tambahan, khususnya dalam konteks internasionalisasi dan rekam jejak global dosen. Meski berada pada kuartil keempat, Scopus tetap dikategorikan sebagai jurnal internasional bereputasi. 

Namun, perlu dipahami bahwa angka kredit dari artikel jurnal, baik SINTA 1 maupun Scopus 4, tetap memiliki batas maksimal sesuai ketentuan. Karena itu, banyak penulis di Jakarta mulai mengombinasikan publikasi jurnal dengan luaran lain, seperti buku ajar atau buku referensi. Strategi ini dinilai lebih efektif untuk mengoptimalkan angka kredit sekaligus memperkuat kontribusi akademik jangka panjang.

Tantangan SINTA 1 dan Scopus 4

Meski sama-sama prestisius, SINTA 1 Vs Scopus 4 juga memiliki tantangan tersendiri. Tantangan ini perlu dipahami agar Anda dapat menyiapkan strategi publikasi yang realistis dan berkelanjutan. Beberapa tantangannya, seperti:

  1. Proses seleksi ketat.Baik SINTA 1 maupun Scopus 4 memiliki tingkat penolakan yang cukup tinggi, sehingga kualitas naskah harus benar-benar matang.
  2. Proses review hingga terbit bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan lebih dari satu tahun.
  3. Penyesuaian gaya penulisan, karena setiap jurnal memiliki style guide berbeda yang menuntut penulis untuk adaptif dan teliti.
  4. Biaya publikasi. Beberapa jurnal, terutama Scopus, menerapkan article processing charge yang perlu dipertimbangkan sejak awal.

Mana yang Lebih Menguntungkan untuk Karier Dosen?

Menjawab pertanyaan SINTA 1 Vs Scopus 4, jawabannya sangat bergantung pada tujuan Anda. Jika fokus utama adalah pemenuhan BKD dan penguatan posisi akademik di dalam negeri, SINTA 1 sudah sangat memadai.

Namun, jika Anda ingin memperluas jejaring riset dan meningkatkan visibilitas internasional, Scopus 4 bisa menjadi pilihan strategis. Publikasi ini sering menjadi batu loncatan menuju jurnal dengan kuartil yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, keduanya sama-sama dapat digunakan untuk pelaporan BKD maupun perolehan angka kredit. Namun, jika Anda ingin meraih angka kredit yang lebih besar dan dampak jangka panjang, menerbitkan buku akademik bisa menjadi pilihan. Deepublish siap mendampingi Anda dalam proses penerbitan buku yang profesional, legal, dan sesuai standar akademik.

Sumber: 

“Publish SINTA 1/Scopus Q4 Lebih Unggul Mana?” Instagram Publica Scientifi, 26 Mei. 2025, https://www.instagram.com/p/DKHWhgyt1-V/?utm_source=ig_web_copy_link.

“Perbedaan Jurnal SINTA dan Scopus: Panduan Lengkap untuk Memahami Kualitas Publikasi Ilmiah.” RevoEdu, 10 Des. 2025, https://revoedu.org/article/perbedaan-jurnal-sinta-dan-scopus-panduan-lengkap-untuk-memahami-kualitas-publikasi-ilmiah/.

Bagikan artikel ini melalui

Picture of Dhea Salsabila
Dhea Salsabila
SEO Specialist di Penerbit Deepublish Jakarta yang berfokus pada optimasi konten lokal dan peningkatan visibilitas brand di wilayah Jabodetabek.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *