Perubahan dunia pendidikan tinggi menuntut sistem pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Salah satu pendekatan yang kini banyak diterapkan adalah kurikulum OBE, yang dinilai mampu menjawab tantangan lulusan siap kerja dan berdaya saing. Namun, apa sebenarnya perbedaan kurikulum OBE dengan kurikulum konvensional yang selama ini digunakan?
Daftar Isi
Toggle1. Perbedaan Pendekatan Dasar
Kurikulum konvensional umumnya berangkat dari materi yang harus disampaikan kepada mahasiswa. Fokus utamanya adalah memastikan seluruh pokok bahasan tersampaikan sesuai silabus yang telah ditetapkan. Pendekatan ini sering membuat pembelajaran terjebak pada penyelesaian materi, bukan pada pencapaian kompetensi.
Sebaliknya, kurikulum OBE dimulai dari perumusan hasil belajar yang diharapkan. Semua aktivitas pembelajaran dirancang berdasarkan kompetensi akhir yang harus dimiliki mahasiswa setelah lulus. Mahasiswa tidak hanya belajar untuk lulus mata kuliah, tetapi untuk mencapai kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia nyata.
2. Fokus Tujuan Pembelajaran
Pada kurikulum konvensional, tujuan pembelajaran sering kali bersifat umum dan berorientasi pada penguasaan teori. Keberhasilan mahasiswa diukur dari sejauh mana mereka memahami materi perkuliahan.
Berbeda dengan itu, kurikulum OBE menempatkan tujuan pembelajaran sebagai elemen utama. Tujuan dirumuskan secara spesifik, terukur, dan relevan dengan kebutuhan pengguna lulusan.
3. Perumusan Capaian Pembelajaran
Dalam kurikulum konvensional, capaian pembelajaran sering kali belum dirumuskan secara rinci dan terintegrasi antar mata kuliah. Akibatnya, keterkaitan antara satu mata kuliah dengan mata kuliah lain kurang terlihat jelas.
Pada kurikulum OBE, capaian pembelajaran lulusan (CPL) dirumuskan secara sistematis dan diturunkan ke dalam capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK). Setiap CPMK memiliki kontribusi yang jelas terhadap CPL.
4. Penyusunan RPS
Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dalam kurikulum konvensional umumnya menekankan pada daftar materi, metode ceramah, dan jadwal pertemuan. Dokumen RPS lebih berfungsi sebagai administrasi akademik daripada panduan pembelajaran strategis.
Sebaliknya, RPS dalam kurikulum OBE disusun berdasarkan keselarasan antara CPL, CPMK, metode pembelajaran, dan sistem penilaian. Penyusunan RPS seperti ini menuntut dosen untuk lebih reflektif dan strategis dalam merancang pengalaman belajar mahasiswa.
5. Metode Pembelajaran
Perbedaan selanjutnya ada pada metode pembelajarannya. Kurikulum konvensional cenderung mengandalkan metode pembelajaran satu arah, seperti ceramah dan presentasi. Mahasiswa sering ditempatkan sebagai penerima informasi pasif.
Dalam kurikulum OBE, metode pembelajaran lebih variatif dan berpusat pada mahasiswa. Diskusi, studi kasus, project-based learning, dan problem-based learning menjadi pendekatan yang umum digunakan.
Metode ini mendorong mahasiswa untuk aktif, kritis, dan mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks nyata.
6. Sistem Penilaian
Penilaian pada kurikulum konvensional umumnya berfokus pada ujian tertulis. Nilai akhir sering kali menjadi satu-satunya indikator keberhasilan mahasiswa. Pendekatan ini belum sepenuhnya menggambarkan kemampuan mahasiswa secara menyeluruh, sehingga aspek keterampilan dan sikap sering terabaikan.
Berbeda dengan itu, kurikulum OBE menerapkan sistem penilaian autentik. Penilaian tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi juga proses pembelajaran mahasiswa. Dengan rubrik yang jelas, dosen dapat menilai keterampilan, sikap, dan pengetahuan mahasiswa secara lebih objektif dan transparan.
7. Peran Dosen
Dalam kurikulum konvensional, dosen berperan sebagai sumber utama pengetahuan. Aktivitas pembelajaran sangat bergantung pada penjelasan dosen di kelas.
Pada kurikulum OBE, peran dosen bergeser menjadi fasilitator dan learning designer. Dosen membantu mahasiswa mencapai capaian pembelajaran melalui berbagai strategi pembelajaran yang terencana.
8. Keterkaitan dengan Dunia Kerja
Kurikulum konvensional sering kali kurang terhubung langsung dengan kebutuhan dunia kerja. Akibatnya, lulusan membutuhkan waktu adaptasi yang cukup lama setelah lulus.
Sebaliknya, kurikulum OBE dirancang dengan mempertimbangkan masukan dari pemangku kepentingan, seperti industri dan pengguna lulusan. Kompetensi yang diajarkan disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
9. Dampak Terhadap Akreditasi
Pada sistem lama, akreditasi lebih menitikberatkan pada kelengkapan dokumen dan sarana prasarana. Proses pembelajaran belum menjadi fokus utama penilaian. Hal ini membuat kualitas lulusan kurang terukur secara sistematis, dan evaluasi sering bersifat administratif.
Saat ini, penerapan kurikulum OBE menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian akreditasi. Lembaga akreditasi menilai sejauh mana perguruan tinggi mampu menjamin ketercapaian capaian pembelajaran.
10. Tantangan Implementasi
Meskipun memiliki banyak keunggulan, penerapan kurikulum OBE tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah kesiapan dosen dalam merancang pembelajaran dan penilaian berbasis capaian.
Selain itu, perubahan paradigma dari teaching-oriented ke learning-oriented membutuhkan waktu dan komitmen bersama. Tanpa pemahaman yang utuh, OBE berisiko hanya menjadi formalitas dokumen.
Oleh karena itu, pendampingan, pelatihan, dan penyediaan buku ajar yang tepat menjadi faktor penting dalam keberhasilan implementasi.
Demikian, memahami perbedaan antara kurikulum konvensional dan kurikulum OBE membantu Anda melihat arah transformasi pendidikan tinggi secara lebih utuh. OBE bukan sekadar tuntutan akreditasi, tetapi pendekatan strategis untuk menghasilkan lulusan yang relevan dan berdaya saing.
Bagi Anda dosen, penulis di Jakarta, maupun pengelola program studi yang ingin berkontribusi melalui buku ajar berbasis OBE, pastikan naskah Anda disusun secara sistematis dan aplikatif. Untuk proses penerbitan yang profesional dan terpercaya, Anda dapat menerbitkan buku melalui Deepublish Jakarta sebagai mitra penerbitan akademik yang berpengalaman.
Sumber:
“Apa Perbedaan Kurikulum OBE dengan Kurikulum Lama?” High Tech Teacher Indonesia, 10 Mei. 2024, https://hightechteacher.id/apa-perbedaan-kurikulum-obe-dengan-kurikulum-lama/.
“Analisis Komparatif: Kurikulum OBE vs. Konvensional dalam Mencetak Lulusan Siap Kerja di Perguruan Tinggi.” SEVIMA, 1 Okt. 2025, https://sevima.com/analisis-komparatif-kurikulum-obe-vs-konvensional-dalam-mencetak-lulusan-siap-kerja-di-perguruan-tinggi/.
“7 Perbedaan Kurikulum OBE dan Kurikulum Lama.” Dunia Dosen, https://duniadosen.com/perbedaan-kurikulum-obe-dan-kurikulum-lama/amp/.

