Langkah Menyusun Kurikulum OBE dari CPL Hingga RPS

menyusun kurikulum obe

Perubahan paradigma pendidikan tinggi mendorong Anda untuk tidak lagi sekadar menyusun daftar mata kuliah, tetapi merancang hasil belajar lulusan yang benar-benar terukur. Kurikulum OBE hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut, mulai dari perumusan CPL hingga penerapannya dalam RPS yang sistematis. Jika disusun dengan alur yang tepat, kurikulum ini dapat menjadi fondasi kuat bagi pembelajaran yang relevan dan berkelanjutan.

Berikut langkah-langkah menyusun kurikulum OBE dari CPL hingga RPS:

1. Menetapkan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL)

Langkah awal dalam menyusun kurikulum OBE adalah menetapkan Capaian Pembelajaran Lulusan atau CPL. Pada tahap ini, Anda perlu merumuskan profil lulusan yang ingin dihasilkan, baik dari aspek sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. CPL menjadi fondasi utama yang menentukan arah keseluruhan kurikulum.

Penyusunan CPL sebaiknya mengacu pada standar nasional pendidikan tinggi, kebutuhan pemangku kepentingan, serta perkembangan ilmu dan industri. Dengan begitu, CPL tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga relevan dengan tantangan nyata di lapangan. Anda dapat melibatkan asosiasi profesi atau alumni sebagai sumber masukan.

Agar lebih terukur, CPL perlu dirumuskan menggunakan kata kerja operasional yang jelas dan dapat dievaluasi. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip outcome-based education yang menekankan ketercapaian hasil belajar. CPL yang baik akan memudahkan Anda dalam menurunkannya ke tahapan berikutnya.

2. Menurunkan CPL ke Capaian Pembelajaran Program Studi (CPL-Prodi)

Setelah CPL ditetapkan, langkah selanjutnya adalah menurunkannya menjadi Capaian Pembelajaran Program Studi (CPL-Prodi). Tahap ini bertujuan untuk memetakan CPL agar lebih kontekstual sesuai karakter dan keunikan masing-masing program studi. Anda perlu memastikan keterkaitan yang logis antara CPL dan CPL-Prodi.

CPL-Prodi disusun dengan bahasa yang lebih spesifik namun tetap selaras dengan tujuan lulusan. Di sini, Anda dapat mengelompokkan capaian berdasarkan domain sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 

Proses penurunan ini sebaiknya dilakukan secara kolaboratif melalui forum dosen. Diskusi bersama akan meminimalkan tumpang tindih capaian dan memastikan konsistensi kurikulum. 

3. Menyusun Struktur Kurikulum dan Mata Kuliah

Struktur kurikulum disusun berdasarkan CPL-Prodi yang telah ditetapkan. Anda perlu menentukan mata kuliah wajib, pilihan, serta urutan pengambilannya secara logis dari semester awal hingga akhir. Struktur ini mencerminkan alur pembelajaran mahasiswa secara bertahap.

Pada tahap ini, Anda juga perlu mempertimbangkan beban studi dan kedalaman materi. Mata kuliah dasar berfungsi sebagai fondasi, sementara mata kuliah lanjutan menguatkan kompetensi spesifik. Penyusunan struktur yang tepat akan mendukung pencapaian CPL secara optimal.

4. Menyusun Pemetaan CPL-Mata Kuliah

Selanjutnya, pemetaan CPL–mata kuliah dilakukan untuk memastikan setiap CPL terfasilitasi oleh mata kuliah yang ada. Anda perlu membuat matriks yang menunjukkan kontribusi masing-masing mata kuliah terhadap CPL. Pemetaan ini menjadi alat kontrol kualitas kurikulum.

Melalui pemetaan, Anda dapat mengidentifikasi CPL yang terlalu dominan atau justru belum terakomodasi. Hal ini membantu dalam melakukan penyesuaian struktur mata kuliah jika diperlukan. Pemetaan juga memudahkan proses akreditasi.

5. Menetapkan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

CPMK merupakan turunan langsung dari CPL-Prodi yang spesifik pada satu mata kuliah. Anda perlu merumuskan CPMK agar sejalan dengan kontribusi mata kuliah terhadap CPL. CPMK menjadi acuan utama dosen dalam menyusun RPS.

Perumusan CPMK harus menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. Hal ini memudahkan Anda dalam menentukan metode pembelajaran dan penilaian yang sesuai. CPMK yang jelas juga membantu mahasiswa memahami target belajar mereka.

Dalam praktiknya, CPMK sebaiknya dibahas bersama tim pengampu mata kuliah. Kolaborasi ini penting agar implementasi kurikulum OBE berjalan konsisten di seluruh kelas.

6. Menurunkan CPMK ke Sub-CPMK

Sub-CPMK berfungsi sebagai capaian pembelajaran tiap pertemuan atau kelompok materi. Anda perlu menurunkan CPMK menjadi sub-CPMK yang lebih rinci dan operasional. Tahap ini membantu menjaga fokus pembelajaran di setiap sesi.

Sub-CPMK disusun secara berurutan sesuai alur logis materi. Dengan begitu, mahasiswa dapat mencapai CPMK secara bertahap tanpa merasa terbebani. Setiap sub-CPMK harus dapat diukur melalui aktivitas pembelajaran.

7. Menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS) OBE

RPS OBE disusun berdasarkan CPMK dan sub-CPMK yang telah ditetapkan. Anda perlu merancang RPS yang memuat tujuan, materi, metode, media, serta penilaian pembelajaran. RPS menjadi panduan utama dosen selama satu semester.

Dalam RPS berbasis kurikulum OBE, setiap komponen harus saling selaras. Metode pembelajaran dipilih untuk mendukung pencapaian CPMK, bukan sekadar penyampaian materi. Hal ini membuat pembelajaran lebih bermakna.

RPS yang baik juga bersifat fleksibel dan adaptif. Anda dapat menyesuaikannya dengan karakter mahasiswa tanpa mengubah capaian pembelajaran yang ditetapkan.

8. Menyelaraskan Metode Pembelajaran dan Penilaian

Penyelarasan metode pembelajaran dan penilaian merupakan inti dari kurikulum OBE. Anda perlu memastikan bahwa cara mengajar dan cara menilai benar-benar mengukur capaian yang ditetapkan. Metode seperti project-based learning atau case study sering digunakan.

Penilaian tidak hanya berfokus pada ujian akhir, tetapi juga proses belajar mahasiswa. Rubrik penilaian menjadi alat penting untuk menjaga objektivitas. Dengan rubrik, mahasiswa memahami standar keberhasilan yang diharapkan.

9. Review, Validasi, dan Evaluasi

Tahap akhir dalam penyusunan kurikulum OBE adalah review, validasi, dan evaluasi. Anda perlu melakukan peninjauan kurikulum secara berkala untuk memastikan relevansinya. Proses ini dapat melibatkan pakar eksternal dan pengguna lulusan.

Validasi dilakukan untuk memastikan kurikulum telah sesuai standar dan kebutuhan. Sementara itu, evaluasi berfungsi sebagai dasar perbaikan berkelanjutan. Pendekatan ini menjadikan kurikulum lebih dinamis.

Menyusun kurikulum OBE memang membutuhkan ketelitian dan pemahaman menyeluruh, namun hasilnya sebanding dengan kualitas pembelajaran yang dihasilkan. Dengan alur yang jelas dari CPL hingga RPS, Anda dapat menghadirkan kurikulum yang relevan, terukur, dan aplikatif. Jika Anda berencana menerbitkan buku ajar atau panduan kurikulum OBE tapi bingung mulai dari mana, tak perlu khawatir!

Temukan panduannya dengan download gratis E-Book Panduan Menyusun Buku Ajar dari Deepublish Jakarta!

Sumber:

“Mekanisme Penyusunan Kurikulum OBE di Perguruan Tinggi.” SUTEKI Technology, 10 Sep. 2025, https://suteki.co.id/mekanisme-penyusunan-kurikulum-obe-di-perguruan-tinggi/.

“Strategi Menyusun Kurikulum dan RPS Berbasis Outcome-Based Education (OBE).” YouTube SEVIMA, 2 Sep. 2023, https://www.youtube.com/watch?v=hoQvZ8gDpgw.

Bagikan artikel ini melalui

Picture of Dhea Salsabila
Dhea Salsabila
SEO Specialist di Penerbit Deepublish Jakarta yang berfokus pada optimasi konten lokal dan peningkatan visibilitas brand di wilayah Jabodetabek.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *