Sebagai penerbit yang setiap hari berinteraksi dengan dosen, peneliti, dan pengelola perguruan tinggi, kami di Deepublish Jakarta melihat bahwa kebijakan Indikator Kinerja Utama (IKU) Diktisaintek Berdampak bukan sekadar perubahan administratif. Kebijakan ini membawa arah baru dalam cara kampus merancang program, mengelola kinerja, hingga mendokumentasikan luaran akademik secara lebih bermakna.
Transformasi IKU yang mulai diterapkan untuk periode 2025–2029 menegaskan pergeseran paradigma, dari indikator yang hanya mengukur kepatuhan, menjadi instrumen strategis yang mendorong dampak nyata bagi pendidikan tinggi dan masyarakat. Bagi Anda yang terlibat dalam perencanaan akademik maupun publikasi ilmiah, pemahaman atas IKU Diktisaintek Berdampak menjadi fondasi penting agar setiap capaian dapat terdokumentasi dan diakui secara optimal.
Baca Juga: Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi dan Cara Mencapainya
Daftar Isi
TogglePerubahan Paradigma IKU dalam Kebijakan Diktisaintek
Dalam kerangka baru ini, IKU tidak lagi diposisikan sebagai daftar angka yang dilaporkan setiap tahun. IKU Diktisaintek Berdampak dirancang untuk menguatkan arah kebijakan nasional, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia, riset, dan inovasi. Artinya, kinerja perguruan tinggi diukur dari kontribusi riil yang dihasilkan, bukan semata kelengkapan dokumen.
Pendekatan ini memberi sinyal kuat bahwa perguruan tinggi perlu menyelaraskan perencanaan akademik, penelitian, dan pengabdian dengan dampak yang dapat dirasakan oleh pemangku kepentingan. Bagi kami di Deepublish Jakarta, arah ini juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan publikasi buku akademik yang tidak hanya rapi secara administrasi, tetapi juga relevan secara substansi.
Baca Juga: 8 Strategi Pencapaian IKU Perguruan Tinggi Swasta
Struktur IKU Diktisaintek Berdampak
Berdasarkan dokumen sosialisasi resmi, penilaian kinerja perguruan tinggi dilakukan melalui tiga kelompok indikator utama. Ketiganya saling melengkapi dan memberi ruang fleksibilitas bagi institusi.
1. IKU Wajib
IKU Wajib adalah indikator yang harus dipenuhi oleh seluruh perguruan tinggi. Fokusnya pada efisiensi pendidikan, kesiapan lulusan, pengalaman belajar mahasiswa, kerja sama berdampak, kontribusi terhadap SDGs, serta kemandirian pendanaan. Keenam IKU ini menjadi fondasi penilaian kinerja institusi.
2. IKU Pilihan
IKU Pilihan memberi ruang diferensiasi. Perguruan tinggi dapat memilih satu indikator yang paling sesuai dengan mandat dan keunggulan institusi. Pendekatan ini mencegah penyeragaman dan mendorong kampus menonjolkan kekuatan khasnya.
IKU Pilihan memungkinkan perguruan tinggi menegaskan identitas strategisnya. Beberapa opsi yang tersedia antara lain rekognisi internasional dosen, publikasi bereputasi internasional, keterlibatan dalam kebijakan publik, pembangunan zona integritas, hingga kualitas tata kelola keuangan.
Bagi kampus yang kuat di bidang riset dan akademik, IKU terkait publikasi dan rekognisi dosen sering menjadi pilihan. Di sinilah buku akademik, monograf, dan buku referensi memiliki peran penting sebagai luaran yang terdokumentasi secara formal dan berkelanjutan.
3. IKU Partisipatif
IKU Partisipatif dirancang untuk merepresentasikan keunikan perguruan tinggi yang tidak tercakup dalam IKU wajib maupun pilihan. Indikator ini diusulkan secara mandiri dan mencerminkan keterlibatan pemangku kepentingan, termasuk alumni dan mitra strategis.
IKU Partisipatif memberi ruang bagi kampus untuk menampilkan kekuatan uniknya, misalnya keterlibatan alumni dalam pengembangan institusi. Pendekatan ini menegaskan bahwa perguruan tinggi adalah ekosistem terbuka yang tumbuh bersama komunitasnya.
Dalam praktiknya, capaian IKU Partisipatif juga membutuhkan dokumentasi yang rapi dan mudah ditelusuri. Buku, laporan, dan karya tulis terbit menjadi salah satu bentuk rekam jejak yang dapat memperkuat narasi kinerja institusi.
Baca Juga: 9 Kiat Mendorong Publikasi Luaran Penelitian untuk Meningkatkan Akreditasi Perguruan Tinggi
6 IKU Wajib yang Perlu Dipahami Kampus
Dari pengalaman kami mendampingi penulis dan institusi, IKU Wajib sering menjadi acuan utama dalam penyusunan laporan kinerja dan luaran akademik. Berikut ringkasannya:
IKU 1 – Angka Efisiensi Edukasi (AEE)
IKU ini mengukur kemampuan perguruan tinggi memastikan mahasiswa lulus tepat waktu. AEE mencerminkan efektivitas kurikulum, kualitas pembelajaran, dan sistem pendampingan akademik yang berjalan.
IKU 2 – Lulusan Melanjutkan Studi, Bekerja, atau Berwirausaha
Melalui tracer study, perguruan tinggi menilai kesiapan lulusan dalam transisi pasca kampus. IKU ini menegaskan pentingnya relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan kewirausahaan.
IKU 3 – Mahasiswa Berkegiatan di Luar Program Studi
IKU ini mendorong pembelajaran kontekstual melalui magang, penelitian, proyek sosial, dan kegiatan lain di luar kelas. Implementasinya selaras dengan semangat Merdeka Belajar Kampus Berdampak.
IKU 5 – Rasio Luaran Kerja Sama dengan Mitra
Fokus IKU ini bukan pada jumlah kerja sama, melainkan hasil nyata yang dimanfaatkan mitra. Luaran dapat berupa publikasi, produk terapan, atau inovasi yang berdampak.
IKU 7 – Keterlibatan dalam SDGs
Perguruan tinggi diwajibkan berkontribusi pada SDGs tertentu, termasuk pendidikan berkualitas dan kemitraan. Kontribusi ini harus terintegrasi dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
IKU 9 – Pendapatan Non Pendidikan
IKU ini mengukur kemandirian finansial perguruan tinggi melalui pendapatan dari riset, inovasi, dan kerja sama. Pengelolaan keuangan yang transparan menjadi kunci pencapaiannya.
Publikasi Buku sebagai Bagian dari Strategi IKU
Deepublish Jakarta melihat bahwa banyak capaian IKU, baik wajib, pilihan, maupun partisipatif, memerlukan dukungan publikasi yang kredibel. Buku ajar, buku referensi, hingga hasil konversi karya ilmiah menjadi sarana strategis untuk mendokumentasikan pengetahuan, memperkuat reputasi akademik, dan mendukung pelaporan kinerja.
Penerbitan buku yang sesuai standar, lolos ISBN, dan melalui proses penyuntingan yang baik membantu penulis dan institusi memastikan bahwa luaran akademik tidak hanya dihasilkan, tetapi juga diakui dan dimanfaatkan secara luas.
IKU Diktisaintek Berdampak menuntut perguruan tinggi bergerak lebih strategis, terukur, dan berorientasi hasil. Agar setiap capaian tidak berhenti pada angka, diperlukan dokumentasi akademik yang kuat dan berkelanjutan.
Jika Anda dosen, peneliti, atau pengelola institusi yang ingin menguatkan luaran IKU melalui buku ajar, monograf, atau konversi karya ilmiah, Deepublish Jakarta siap mendampingi proses penerbitan buku Anda secara profesional, sesuai standar, dan terarah pada kebutuhan kinerja perguruan tinggi.

