Punya naskah yang ingin segera diterbitkan, tetapi masih bingung memilih jalur penerbitannya? Ada self publishing dan penerbit mayor yang menawarkan proses berbeda, mulai dari biaya, seleksi naskah, hingga pemasaran buku. Sebelum menentukan pilihan, yuk, kenali perbedaan self publishing dan penerbit mayor agar kamu bisa menemukan jalur yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penerbitanmu.
Daftar Isi
ToggleApa Itu Self Publishing?
Self publishing merupakan metode penerbitan buku yang memberikan kendali utama kepada penulis dalam mengelola proses penerbitan karyanya. Penulis dapat mengurus seluruh tahapan secara mandiri, mulai dari penyuntingan sampai percetakan, hingga pemasaran dan distribusi buku.
Namun, penerbitan mandiri tidak selalu berarti penulis harus mengerjakan semuanya sendiri. Kamu tetap bisa menggunakan jasa pihak ketiga, seperti editor, desainer, percetakan, atau penyedia layanan penerbitan self publishing, sesuai kebutuhan dan anggaran yang tersedia.
Baca Juga: 10 Perbedaan Penerbit Mayor dan Indie, Mana yang Lebih Cocok?
Apa Itu Penerbit Mayor?
Penerbit mayor adalah perusahaan penerbitan yang menjalankan proses penerbitan buku secara profesional dengan sistem kerja dan standar editorial tertentu. Penerbit memiliki tim yang menangani setiap tahapan penerbitan sampai proses percetakan hingga pemasaran ke berbagai tempat.
Berbeda dari penerbitan mandiri, penerbit mayor umumnya menyeleksi naskah berdasarkan kualitas isi, kesesuaian dengan karakter penerbit, serta potensi pembaca di pasar. Jika naskah diterima, penerbit akan membiayai proses produksi dan mengelola penerbitannya berdasarkan perjanjian kerja sama dengan penulis.
Baca Juga:
- Berapa Lama Estimasi Waktu Terbit E-Book dari Naskah Karya?
- Biaya Menerbitkan Buku di Deepublish Jakarta
- Cek Biaya Proofreading Naskah Ilmiah Sebelum Terbit Buku
Perbedaan Self Publishing dan Penerbit Mayor
Sekilas, kedua jalur penerbitan ini sama-sama bisa membantu karya kamu menjadi sebuah buku yang siap dibaca publik. Namun, ada beberapa aspek yang membedakan keduanya dan bisa memengaruhi pengalamanmu selama proses penerbitan.
1. Biaya Penerbitan
Dalam self publishing, biaya penerbitan umumnya menjadi tanggung jawab penulis. Kamu perlu menyiapkan anggaran untuk kebutuhan pengeditan naskah hingga pengurusan administrasi penerbitan jika menggunakan jasa pihak ketiga. Besarnya biaya bergantung pada spesifikasi buku, ukuran buku hingga layanan yang dipilih.
Sementara itu, penerbit mayor biasanya menanggung biaya produksi buku sejak naskah dinyatakan diterima. Artinya, penulis tidak perlu membayar biaya penerbitan seperti yang lazim berlaku pada layanan self publishing.
2. Seleksi Naskah
Penerbit mayor umumnya menerapkan seleksi naskah sebelum memutuskan karya mana yang akan diterbitkan. Tim editorial akan menilai berbagai aspek, seperti kualitas tulisan, kebaruan gagasan, kesesuaian dengan segmen pembaca, dan peluang pemasaran. Karena harus melalui proses penilaian tersebut, tidak semua naskah yang dikirimkan penulis bisa mendapatkan kesempatan terbit.
Di sisi lain, self publishing cenderung menawarkan proses penerimaan naskah yang lebih fleksibel. Penulis memiliki keleluasaan untuk menentukan karya yang ingin diterbitkan, selama tetap memenuhi ketentuan layanan dan tidak melanggar hukum maupun etika penerbitan. Meski begitu, bukan berarti kualitas naskah boleh diabaikan karena tanggung jawab terhadap isi buku tetap perlu diperhatikan.
3. Kecepatan Terbit
Dari segi waktu, self publishing memberikan keleluasaan lebih besar kepada penulis untuk menentukan jadwal penerbitan. Setelah naskah, desain, dan kebutuhan produksi selesai, buku dapat segera masuk ke tahap pencetakan atau publikasi digital. Kamu juga bisa menyesuaikan prosesnya dengan tenggat yang dimiliki tanpa harus mengikuti antrean penerbitan yang panjang.
Berbeda dengan itu, penerbit mayor biasanya membutuhkan waktu lebih panjang karena setiap naskah harus melewati tahapan editorial dan produksi yang terstruktur. Prosesnya dapat berlangsung selama beberapa bulan, bahkan lebih, bergantung pada kebijakan penerbit, antrean naskah, dan kompleksitas buku.
4. Pengembangan Naskah
Dalam self publishing, penulis memiliki ruang lebih luas untuk menentukan arah pengembangan naskah. Kamu bisa memilih editor sendiri, mempertahankan gaya penulisan tertentu, serta menentukan desain dan penyajian isi sesuai konsep yang diinginkan.
Pada penerbit mayor, pengembangan naskah biasanya melibatkan editor dan tim produksi yang bekerja berdasarkan standar penerbit. Penulis mungkin diminta memperbaiki alur pembahasan, memperjelas informasi, menyesuaikan bahasa, atau mengubah bagian tertentu agar lebih sesuai dengan target pembaca.
5. Besaran Royalti
Sistem royalti dalam self publishing bergantung pada model penerbitan yang dipilih. Jika kamu mengelola seluruh proses secara mandiri, pendapatan dari penjualan buku dapat menjadi milikmu setelah dikurangi biaya produksi, distribusi, dan pemasaran. Namun, apabila menggunakan jasa penerbit self publishing, pembagian hasil penjualan mengikuti kesepakatan yang tercantum dalam kontrak.
Sementara itu, penerbit mayor biasanya memberikan royalti kepada penulis berdasarkan persentase penjualan buku sesuai perjanjian kerja sama. Besarannya tidak selalu sama karena dipengaruhi kebijakan penerbit, jenis buku, dan ketentuan kontrak. Meskipun persentasenya bisa lebih kecil dibandingkan penerbitan mandiri, penulis tidak perlu menanggung sendiri seluruh biaya produksi buku.
6. Pemasaran dan Distribusi Buku
Ketika memilih self publishing, kamu perlu menyiapkan strategi pemasaran dan distribusi agar buku dapat menjangkau pembaca. Promosi bisa dilakukan melalui media sosial, komunitas, toko buku online, maupun jaringan yang sudah kamu bangun sebelumnya.
Penerbit mayor umumnya memiliki jaringan pemasaran dan distribusi yang lebih terorganisasi, termasuk kerja sama dengan toko buku, distributor, dan berbagai saluran penjualan lainnya. Hal ini membuka peluang bagi buku untuk menjangkau pembaca di wilayah yang lebih luas.
7. Legalitas Buku
Aspek legalitas juga perlu kamu perhatikan sebelum memutuskan jalur penerbitan. Dalam self publishing, pengurusan identitas penerbitan seperti ISBN perlu disesuaikan dengan pihak yang bertindak sebagai penerbit dan ketentuan Perpustakaan Nasional. Jika menggunakan jasa penerbit self publishing, pastikan pihak tersebut menjelaskan proses pengurusan ISBN dan identitas penerbit yang akan dicantumkan dalam buku.
Pada penerbit mayor, pengelolaan administrasi penerbitan, termasuk pengajuan ISBN, umumnya ditangani oleh pihak penerbit. Namun, perlu diketahui bahwa ISBN bukan sertifikat hak cipta atau bukti bahwa suatu karya telah memperoleh perlindungan hak cipta. Kepemilikan hak cipta dan izin pemanfaatan karya tetap perlu diperhatikan melalui perjanjian antara penulis dan penerbit.
Keunggulan dan Kekurangan Self Publishing
Self publishing menawarkan keleluasaan bagi penulis yang ingin menerbitkan karya sesuai konsep dan kebutuhannya sendiri. Namun, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar proses penerbitan tidak justru menjadi beban.
1. Keunggulan Self Publishing
Beberapa keunggulan self publishing yang bisa kamu pertimbangkan antara lain:
- Bebas menentukan konsep buku. Kamu memiliki kendali untuk menentukan isi, desain sampul, tata letak, hingga gaya penyajian buku sesuai keinginan.
- Jadwal penerbitan lebih fleksibel. Kamu bisa mengatur sendiri target waktu penerbitan tanpa harus mengikuti antrean produksi penerbit mayor.
- Anggaran lebih mudah disesuaikan. Kamu dapat memilih spesifikasi buku, jumlah cetakan, dan layanan penerbitan berdasarkan anggaran yang tersedia.
- Kendali lebih besar atas hasil penjualan. Jika seluruh proses dikelola secara mandiri, pendapatan penjualan dapat kamu kelola sendiri setelah dikurangi biaya produksi, distribusi, dan pemasaran.
2. Kekurangan Self Publishing
Di balik berbagai keleluasaannya, ada beberapa tantangan self publishing yang perlu kamu perhatikan:
- Membutuhkan modal pribadi. Biaya penyuntingan, desain, tata letak, pencetakan, dan kebutuhan penerbitan lainnya perlu dipersiapkan sendiri.
- Pengelolaan penerbitan lebih kompleks. Kamu perlu mengatur berbagai tahapan produksi dan mencari tenaga profesional jika tidak memiliki keahlian di bidang tersebut.
- Pemasaran menjadi tanggung jawab penulis. Kamu perlu membangun strategi promosi dan mencari saluran distribusi agar buku bisa menjangkau lebih banyak pembaca.
- Kualitas buku bergantung pada pengelolaan produksi. Tanpa penyuntingan dan pemeriksaan yang memadai, buku berisiko memiliki kesalahan penulisan, tata letak, maupun kualitas cetak.
Keunggulan dan Kekurangan Penerbit Mayor
Penerbit mayor menawarkan sistem kerja yang lebih terstruktur karena proses penerbitan ditangani oleh tim profesional. Meski begitu, jalur ini juga memiliki keterbatasan yang sebaiknya kamu pertimbangkan sebelum mengirimkan naskah.
1. Keunggulan Penerbit Mayor
Berikut beberapa keunggulan menerbitkan buku melalui penerbit mayor:
- Biaya produksi ditanggung penerbit. Jika naskah diterima melalui jalur penerbitan reguler, penulis umumnya tidak perlu mengeluarkan biaya produksi buku.
- Didukung tim profesional. Proses penyuntingan, desain, tata letak, hingga pencetakan ditangani oleh tim yang berpengalaman.
- Jaringan distribusi lebih luas. Buku berpeluang dipasarkan melalui toko buku, distributor, dan berbagai saluran penjualan yang telah bekerja sama dengan penerbit.
- Mendapat dukungan pemasaran. Penerbit dapat membantu mempromosikan buku melalui saluran pemasaran yang dimiliki, sehingga penulis tidak harus mengelola seluruh strategi promosi sendirian.
2. Kekurangan Penerbit Mayor
Meskipun menawarkan berbagai dukungan, menerbitkan buku melalui penerbit mayor juga memiliki beberapa tantangan:
- Seleksi naskah cukup kompetitif. Tidak semua naskah bisa diterima karena penerbit mempertimbangkan kualitas tulisan, kesesuaian tema, dan potensi pasar.
- Waktu penerbitan relatif panjang. Naskah perlu melewati proses seleksi, penyuntingan, produksi, dan penjadwalan sebelum akhirnya diterbitkan.
- Kendali penulis lebih terbatas. Penulis perlu menyesuaikan beberapa aspek naskah, desain, maupun konsep buku berdasarkan kebijakan dan masukan tim editorial.
- Royalti mengikuti kebijakan penerbit. Besaran royalti dan mekanisme pembayarannya ditentukan berdasarkan perjanjian kerja sama, sehingga penulis perlu memeriksa ketentuannya sejak awal.
Masih bingung memilih buku monograf atau referensi untuk meningkatkan poin KUM Jabatan Fungsional? Konsultasikan pertanyaan anda dengan menghubungi Konsultan Deepublish Jakarta agar menemukan jawaban yang sesuai dan meminimalisir kesalahan terbit buku.
Itulah beberapa perbedaan self publishing dan penerbit mayor yang bisa kamu jadikan pertimbangan sebelum menerbitkan karya dari Penerbit Buku Deepublish Jakarta. Keduanya memiliki keunggulan dan tantangan masing-masing, sehingga pilihan terbaik bergantung pada tujuan penerbitan, anggaran, kebutuhan pendampingan, serta kendali yang ingin kamu miliki atas buku.
Sumber:
“Penerbit Self Publishing vs Penerbit Mayor: Penulis Sebaiknya Pilih Mana?” Deepublish, 17 Mei. 2023, https://penerbitdeepublish.com/penerbitan-dan-percetakan/self-publishing-indonesia/.
“Self Publishing vs Penerbit Mayor: Pilih yang Mana?” Penerbit Bukuloka, https://penerbit.bukuloka.com/self-publishing-vs-penerbit-mayor-pilih-yang-mana/.
“Penerbit Self Publishing vs Penerbit Mayor.” Nasmedia, https://nasmedia.id/blog/penerbit-self-publishing-vs-penerbit-mayor-kelebihan-dan-kekurangan/.






