Saat ini menerbitkan buku tidak lagi harus selalu berujung pada tumpukan buku cetak. Pembuatan e-book dengan e-ISBN membuat kamu punya pilihan untuk mempublikasikan karya secara digital sekaligus mendukung kebutuhan akademik, termasuk dalam pengumpulan angka kredit.Â
Bagi dosen, buku digital juga menawarkan akses yang lebih luas karena karya dapat dibaca tanpa terikat lokasi. Kalau kamu ingin terbit e-book sekaligus mengoptimalkan nilai KUM, bukan hanya format digital yang perlu diperhatikan, tetapi juga jenis buku dan proses penerbitannya. Lalu, strategi apa saja yang bisa kamu lakukan?
Daftar Isi
ToggleApa Itu Nilai KUM?
KUM merupakan akumulasi angka kredit yang digunakan sebagai salah satu bagian dalam penilaian dan pengembangan jenjang jabatan akademik dosen. Angka tersebut diperoleh dari berbagai komponen sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga setiap kegiatan akademik yang diakui dapat berkontribusi terhadap capaian angka kredit.
Apakah Buku Digital Bisa Mendapatkan Nilai KUM?
Jawabannya bisa. Buku digital dapat memperoleh pengakuan angka kredit selama memenuhi persyaratan penerbitan yang berlaku, salah satunya memiliki e-ISBN resmi. Jadi, bentuk digitalnya bukan alasan sebuah buku otomatis kehilangan nilai akademik, dan yang perlu diperhatikan adalah legalitas dan kesesuaiannya dengan kategori buku yang dinilai.
Format digital juga perlu dibedakan dari jenis bukunya. Artinya, ketika kamu ingin menerbitkan buku ajar, monograf, atau buku referensi dalam bentuk e-book, penilaiannya tetap mengikuti karakteristik dan ketentuan jenis buku tersebut, bukan semata-mata karena buku itu diterbitkan secara digital.
Temukan harga paket penerbitan buku dengan harga terjangkau menggunakan layanan penerbitan buku digital. Lihat Daftar Harga Paket untuk memastikan pengeluaran budget anda agar lebih aman dan proses penerbitan lebih cepat 2x lipat dibanding penerbitan buku cetak.
Keunggulan Terbit Buku Digital
Selain dapat menjadi pilihan publikasi bagi dosen, buku digital menawarkan proses yang lebih praktis dibandingkan penerbitan yang sepenuhnya mengandalkan buku fisik. Ada beberapa keuntungan terbit buku digital yang bisa kamu pertimbangkan sebelum menentukan format publikasi.
1. Lebih Murah
Salah satu alasan banyak penulis memilih terbit buku digital adalah biaya produksinya yang relatif lebih efisien. Kamu tidak perlu menyiapkan anggaran untuk mencetak sejumlah eksemplar, sehingga biaya yang biasanya dialokasikan untuk kertas, percetakan, dan produksi fisik dapat ditekan.
Penghematan ini bukan berarti kualitas buku harus dikurangi. Kamu tetap dapat mengalokasikan biaya untuk penyuntingan, desain sampul, tata letak, pengurusan e-ISBN, dan kebutuhan penerbitan lain yang memang diperlukan agar hasil akhirnya tetap profesional.
2. Proses Lebih Cepat
Terbit buku digital memiliki alur yang lebih ringkas karena tidak melewati tahapan produksi fisik seperti pencetakan dan penjilidan. Setelah naskah melewati proses penyuntingan, tata letak, dan persiapan format digital, buku dapat dilanjutkan ke tahap publikasi sesuai prosedur penerbit.
3. Tidak Menunggu Proses Cetak
Pada buku cetak, naskah yang sudah selesai masih perlu melewati proses produksi sebelum bisa sampai ke tangan pembaca. Buku digital tidak membutuhkan tahapan tersebut karena produk akhirnya berupa file elektronik yang siap didistribusikan.
4. Penyimpanan Mudah
Karena berbentuk elektronik, buku digital tidak membutuhkan ruang khusus untuk menyimpan banyak eksemplar. Kamu cukup menyimpan file pada perangkat atau layanan penyimpanan digital sehingga koleksi buku dapat dikelola dengan lebih praktis.
Hal ini juga memudahkan pembaca yang tidak ingin membawa buku fisik dalam jumlah banyak. Satu perangkat dapat menyimpan banyak judul buku sehingga akses terhadap koleksi bacaan menjadi lebih sederhana.
5. Buku Dapat Dibaca Dimana Saja
Buku digital memungkinkan pembaca mengakses karya melalui perangkat seperti smartphone, tablet, laptop, atau perangkat pembaca elektronik. Selama file atau platform bukunya dapat diakses, pembaca tidak harus berada di tempat tertentu untuk menikmati isinya. Keuntungan ini juga membuka peluang jangkauan pembaca yang lebih luas.
Penerbit Buku Deepublish memiliki layanan Konversi KTI yang membantu dosen mengubah naskah hasil penelitian menjadi buku ajar, monograf maupun referensi yang memiliki standar Perpusnas
Strategi Terbit Buku Digital
Supaya proses publikasi tidak berhenti pada sekadar memiliki e-book, kamu perlu menentukan strategi sejak naskah masih dipersiapkan. Beberapa langkah berikut dapat membantu kamu memilih format, penerbit, dan jenis buku yang sesuai dengan kebutuhan akademik.
1. Sesuaikan Kepentingan
Langkah pertama adalah menentukan tujuan kamu menerbitkan buku. Apakah buku tersebut dibuat untuk mendukung kegiatan pembelajaran, mendokumentasikan hasil penelitian, memperluas kajian bidang keilmuan, atau sekaligus memenuhi kebutuhan angka kredit?
Tujuan tersebut akan memengaruhi jenis buku yang sebaiknya kamu pilih. Jangan sampai naskah yang sebenarnya cocok menjadi monograf justru dipaksakan menjadi buku ajar hanya karena mengejar kategori tertentu.
2. Riset Penerbit Buku Digital
Setelah mengetahui kebutuhanmu, mulai cari penerbit yang memang menyediakan layanan terbit buku digital. Periksa legalitas penerbit, layanan yang diberikan, mekanisme pengurusan e-ISBN, distribusi, hingga bentuk pendampingan yang tersedia.
Jangan hanya melihat harga paket penerbitan. Kamu juga perlu mempertimbangkan apakah penerbit mampu membantu memastikan naskah, format digital, dan administrasi penerbitan disiapkan dengan baik. Penerbit yang jelas prosesnya akan membuat kamu lebih mudah memantau perjalanan naskah sampai menjadi buku.
3. Lihat Keunggulan Setiap Penerbit Digital
Setiap penerbit dapat menawarkan fasilitas yang berbeda. Ada yang fokus pada penerbitan dan e-ISBN, sementara penerbit lain menyediakan layanan lebih lengkap seperti penyuntingan, desain, distribusi digital, hingga pemasaran.
Karena itu, bandingkan fasilitas yang benar-benar kamu butuhkan. Kalau targetmu bukan hanya terbit buku digital, tetapi juga ingin karya lebih mudah ditemukan pembaca, pertimbangkan penerbit yang memiliki kanal distribusi digital dan layanan pendukung yang sesuai.
4. Menentukan Topik Sesuai Bidang Kepakaran
Untuk kebutuhan akademik, topik buku sebaiknya tetap berkaitan dengan bidang keilmuan dan kepakaran kamu. Pilihan topik yang relevan akan membuat buku lebih mudah diposisikan sebagai bagian dari portofolio akademik.
Kamu bisa mengembangkan hasil penelitian, materi perkuliahan, atau kajian yang selama ini memang kamu tekuni. Namun, jangan sekadar memindahkan isi laporan penelitian ke dalam buku. Susun kembali pembahasannya agar menjadi naskah yang utuh, nyaman dibaca, dan memiliki kontribusi keilmuan yang jelas.
5. Pilih Luaran Buku yang Sesuai
Sebelum naskah dikirim ke penerbit, tentukan apakah karya kamu akan diterbitkan sebagai buku ajar, buku referensi, atau monograf. Ketiganya memiliki fungsi dan karakteristik berbeda sehingga isi naskah perlu disesuaikan sejak awal.
6. Pastikan Naskah Sudah Selesai
Jangan terburu-buru mengirimkan naskah yang masih setengah jadi. Pastikan isi, struktur bab, referensi, sitasi, dan bagian pendukung lainnya sudah kamu periksa sebelum masuk ke tahap penerbitan.
Naskah yang matang juga akan memudahkan proses editorial. Jika masih ada bagian yang belum selesai atau pembahasan yang terlalu dangkal, proses penerbitan bisa menjadi lebih panjang karena membutuhkan revisi tambahan. Untuk buku akademik, kualitas substansi tetap perlu berjalan beriringan dengan kelengkapan administrasinya.
7. Tanyakan Progres Terbit Buku Digital
Setelah naskah masuk ke penerbit, jangan ragu menanyakan perkembangan prosesnya. Kamu bisa memastikan sudah sampai tahap mana, apakah sedang dalam proses editing, layout, pengurusan e-ISBN, konversi format, atau distribusi.
Komunikasi seperti ini membantu kamu mengetahui jadwal dan memastikan tidak ada dokumen yang tertinggal. Terlebih jika buku diterbitkan untuk kebutuhan akademik dengan target waktu tertentu, informasi progres akan membuat perencanaan pengajuan angka kredit menjadi lebih mudah.
Itulah beberapa strategi terbit buku digital yang bisa kamu terapkan jika ingin mempublikasikan karya sekaligus mendukung kebutuhan akademik. Pastikan buku memiliki e-ISBN dan diterbitkan sesuai kategori serta ketentuan yang berlaku agar karya yang sudah kamu susun tidak berhenti sebagai e-book, tetapi juga memiliki nilai yang dapat diperhitungkan secara akademik.




