Ramadhan sebentar lagi. Beberapa orang menunggu hilal untuk tahu kapan tepatnya memulai berpuasa. Sebenarnya apa sih hilal puasa itu dan bagaimana cara melihatnya? Simak ulasannya dalam artikel berikut.
Baca Juga: 30 Ide Kultum Ramadan untuk Inspirasi Selama Puasa
Daftar Isi
ToggleApa Itu Hilal Puasa?
Sederhananya, hilal puasa merujuk pada penampakan bulan sabit pertama setelah fase bulan baru. Penampakan inilah yang menjadi penanda masuknya bulan Hijriyah baru, termasuk awal Ramadhan.
Dalam kajian falak atau astronomi, hilal puasa adalah bulan sabit sangat tipis yang terlihat sesaat setelah matahari terbenam. Bentuknya tidak selalu mudah diamati dengan mata telanjang. Posisi dan ketinggiannya sangat memengaruhi kemungkinan terlihat atau tidak.
Penentuan awal Ramadhan di banyak negara mengacu pada hasil pengamatan hilal. Proses ini tidak dilakukan sembarangan, tetapi melalui perhitungan dan observasi oleh ahlinya.
Anda juga perlu tahu, bahwa visibilitas hilal dipengaruhi cuaca, posisi geografis, dan sudut elongasi bulan. Karena banyak faktor terlibat, hasil pengamatan bisa berbeda antar wilayah. Maka dari itu sering muncul dan diadakan diskusi tentang metode penentuan awal bulan. Tentunya metode ini hanya berlaku paling sering untuk penentuan puasa ramadhan saja tidak dengan jenis jenis puasa lainya.
Baca Juga: Download Isi Template Buku Kegiatan Ramadhan Format Doc
Metode Melihat Hilal Puasa
Dalam praktiknya, ada dua pendekatan utama yang digunakan untuk menentukan awal bulan Hijriyah. Keduanya sama-sama dipakai dan memiliki dasar keilmuan serta dalil masing-masing.
1. Rukyat Hilal
Rukyat hilal adalah metode pengamatan langsung terhadap bulan sabit pertama. Pengamatan dilakukan setelah matahari terbenam di akhir bulan berjalan. Tim pengamat biasanya berada di lokasi dengan ufuk barat yang terbuka.
Metode ini mengandalkan observasi visual, baik dengan mata telanjang maupun alat bantu optik. Karena bergantung pada kondisi langit, hasilnya bisa berbeda setiap tempat, sehingga menyebabkan mengapa laporan rukyat dikumpulkan dari banyak titik.
Pendekatan rukyat memiliki dasar praktik sejak masa awal Islam. Banyak ulama menjadikannya metode utama penetapan awal bulan. Sampai sekarang, rukyat masih dipakai dalam penentuan hilal puasa di berbagai negara.
2. Metode Hisab
Metode hisab menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan. Perhitungan dilakukan dengan rumus dan data pergerakan benda langit, sehingga cara ini akan memungkinan terlihatnya hilal bisa diprediksi sejak awal.
Hisab tidak menunggu pengamatan langsung di lapangan. anda bisa mengetahui potensi kemunculan hilal puasa melalui data perhitungan. Karena berbasis matematika, hasilnya konsisten dan bisa diuji ulang.
Saat ini, banyak lembaga menggabungkan hisab dan rukyat. Hisab dipakai untuk prediksi, rukyat untuk konfirmasi. Gabungan metode ini membuat penentuan awal bulan lebih kuat secara ilmiah.
Kapan Waktu Melihat Hilal Puasa yang Tepat?
Waktu pengamatan hilal dilakukan saat matahari sudah terbenam. Pada saat itu, bulan berada di dekat ufuk barat. Jendela waktunya cukup singkat, biasanya hanya beberapa puluh menit.
Jika terlalu cepat, cahaya matahari masih terlalu terang. Jika terlalu lambat, bulan sudah turun di bawah ufuk. Karena itu bila anda menjadi tim pengamat, maka harus menghitung waktu secara presisi.
Kondisi langit juga sangat menentukan keberhasilan rukyat. Awan tebal atau kabut bisa menghalangi penglihatan.
Lokasi pengamatan biasanya dipilih di tempat tinggi dan terbuka. Pantai atau puncak bukit sering dijadikan titik rukyat. Tujuannya agar ufuk barat terlihat jelas tanpa penghalang.
Baca Juga: 15 Kegiatan Ngabuburit di Bulan Ramadhan yang Positif
Dalil Penentuan Awal Bulan Puasa
Dalil penentuan awal bulan puasa Ramadhan dalam Islam yang sering dijadikan rujukan dalam praktiknya bersumber dari hadis Nabi Muhammad, yaitu:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ
Artinya: “Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal, dan jika tertutup maka sempurnakan Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari, No. 1776).
Hadis ini menjadi landasan kuat metode rukyat (pengamatan hilal) dan istikmal (penyempurnaan bilangan bulan).
Sebagian besar ulama empat mazhab memahami teks hadis tersebut sebagai perintah menggunakan rukyat secara langsung atau penyempurnaan hitungan hari ketika hilal tidak terlihat. Karena itu, kesaksian terlihatnya hilal memiliki posisi penting dalam penetapan awal Ramadhan. Pendekatan ini dinilai lebih sesuai dengan bunyi literal hadis dan praktik pada masa Nabi.
Namun ada juga ulama yang memberi ruang pada metode hisab (perhitungan astronomi) dengan menafsirkan bagian hadis فَاقْدُرُوا لَهُ sebagai “perkirakanlah dengan perhitungan.” Mereka juga merujuk ayat tentang fungsi peredaran bulan dan matahari untuk perhitungan waktu, yaitu لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ. Perbedaan penafsiran dalil inilah yang kemudian menyebabkan perbedaan metode dan hasil penentuan awal bulan puasa di berbagai kalangan.
Alat untuk Melihat Hilal Puasa
Untuk membantu pengamatan, anda bisa menggunakan beberapa alat khusus untuk membuat proses rukyat lebih akurat dan terukur. Berikut beberapa alat untuk melihat hilal puasa:
1. Gawang Lokasi
Gawang lokasi adalah penanda arah pandang saat rukyat. Alat ini membantu anda sebagai pengamat agar fokus ke titik tertentu di ufuk sehingga area pencarian hilal lebih terarah.
Biasanya gawang dibuat berdasarkan data azimut bulan. Arah sudah dihitung sebelumnya dengan metode hisab. Pengamat tinggal menyesuaikan posisi pandang. Penggunaan gawang membuat proses lebih efisien. anda tidak perlu menyapu seluruh langit barat. Fokusnya hanya pada sektor yang sudah ditentukan.
2. Teleskop
Teleskop adalah alat optik yang paling sering dipakai dalam rukyat modern. Pembesaran tertentu akan membuat objek tipis seperti hilal lebih mudah diamati, terutama saat hilal sangat redup.
Teleskop yang dipakai biasanya sudah dikalibrasi arah dan sudutnya. anda tinggal melakukan penyelarasan kecil. Hasil pengamatan juga bisa direkam.
3. Tongkat Istiwa
Tongkat Istiwa adalah alat sederhana berbasis bayangan matahari. Fungsinya untuk membantu menentukan arah dan posisi mata angin. Dari data itu, arah pengamatan hilal bisa dihitung.
Alat ini sudah digunakan sejak lama dalam ilmu falak. Prinsipnya memanfaatkan panjang bayangan pada waktu tertentu. Tongkat Istiwa juga sering dipakai sebagai alat bantu awal. Setelah arah didapat, pengamatan dilanjutkan dengan alat optik.
4. Theodolit
Theodolit adalah alat ukur sudut yang sangat presisi. Alat ini biasa dipakai dalam survei dan astronomi. Dalam rukyat, Theodolit membantu mengukur ketinggian dan arah bulan.
Sebagai pengamat, anda dapat mengetahui sudut elevasi hilal dengan tepat. Data sudut ini penting untuk verifikasi hasil hisab. Karena itu, Theodolit sering dipakai oleh tim profesional.
Baca Juga: 50+ Pantun Ramadhan dan Balasannya
Itulah penjelasan tentang hilal puasa. Tidak hanya sebagai penanda dimulainya berpuasa, melihat hilal juga menandakan tentang bagaimana ilmu pengetahuan bisa membantu kita menjalankan ibadah dengan lebih yakin.
Ngomong-ngomong soal hilal puasa, topik ini akan selalu punya ruang diskusi yang luas di setiap waktu. Jika anda punya catatan atau naskah seputar topik beragama islam, mungkin bisa menjadi peluang bahwa insight anda akan bermanfaat untuk banyak orang. anda bisa coba menerbitkan buku pendidikan di deepublish branch jakarta sehingga karyamu lebih bermanfaat dan tersebar luas.
Ingin diskusi soal naskahmu? Yuk hubungi Deepublish Jakarta sekarang, ya!
Sumber:
“Apa Itu Hilal? Ini Pengertian, Kriteria dan Cara Melihatnya.” Brain Academy By Ruangguru. 27, Mar. 2025, https://www.brainacademy.id/blog/penjelasan-tentang-hilal.
“Makna Hilal Dalam Islam.” Wakaf Salman. https://www.wakafsalman.or.id/news/makna_hilal_dalam_islam.
“Mengenal Hilal: Kenapa Harus Mengamatinya Sebelum Lebaran?.” Ruangguru. 26, Mar. 2025, https://www.ruangguru.com/blog/mengenal-hilal.

