Menyebut kata “Surat Izin Mengemudi”, tentunya terlalu panjang jika diucapkan dalam percakapan sehari-hari, bukan? Itulah mengapa Anda pasti lebih sering menggunakan kata “SIM”, karena lebih ringkas, sederhana, dan langsung melekat dalam ingatan.
Penyebutan frasa yang lebih ringkas dan sederhana itulah disebut sebagai akronim. Artikel ini akan membahas pengertian akronim lebih dalam, jenis-jenis, contoh akronim, serta perbedaan antara akronim dan singkatan. Simak ulasannya!
Baca Juga: Apa Itu Gaya Bahasa? Pengertian, Ciri, Macam dan Contohnya
Daftar Isi
ToggleApa Itu Akronim
Akronim adalah singkatan yang dibentuk dengan mengambil huruf awal atau bagian tertentu dari kata-kata dalam sebuah frasa sehingga membentuk kata baru yang bisa diucapkan seperti kata biasa.
Akronim mempermudah penyebutan istilah yang panjang dan kompleks. Misalnya, “UNESCO” adalah singkatan dari “United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization,” yang lebih ringkas dan praktis diucapkan.
Penggunaan akronim membantu dalam komunikasi yang lebih cepat dan efisien. Banyak akronim yang telah menjadi bagian dari kosakata umum dan sering digunakan tanpa Anda sadari. Beberapa akronim bahkan lebih dikenal daripada kepanjangan aslinya.
Baca Juga: 150 Contoh Kalimat Aktif Intransitif
Jenis-Jenis Akronim
Terdapat beberapa jenis akronim yang dikelompokkan berdasarkan cara pembentukan dan penggunaannya, antara lain:
1. Akronim Formal
Pertama, Akronim Formal, merupakan akronim yang dibentuk sesuai dengan kaidah bahasa resmi. Akronim jenis ini banyak digunakan dalam konteks akademik dan profesional. Contoh Akronim Formal, “LAN” berarti “Local Area Network,” dan “WHO” merujuk pada “World Health Organization.”
Penggunaan Akronim Formal membantu meningkatkan efisiensi dalam penulisan dokumen resmi. Istilah yang sering digunakan dalam teknologi dan kesehatan biasanya memiliki akronim formal yang diakui secara internasional.
2. Akronim Nonformal
Akronim Nonformal lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari dan tidak selalu mengikuti aturan bahasa baku. Misalnya, “gabut” adalah akronim dari “gaji buta,” yang merujuk pada kondisi menganggur saat bekerja. “Japri” berarti “jalur pribadi” untuk komunikasi langsung.
Akronim Nonformal menunjukkan kreativitas bahasa yang terus berkembang. Banyak di antaranya yang menjadi bagian dari bahasa gaul atau slang yang populer.
3. Akronim Nama
Selanjutnya, Akronim Nama. Jenis Akronim Nama digunakan untuk menyingkat nama organisasi, lembaga, atau perusahaan. Contohnya adalah “NASA” (National Aeronautics and Space Administration) dan “KPK” (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Akronim jenis ini memudahkan pengenalan dan penyebutan nama-nama panjang yang kompleks. Beberapa akronim nama bahkan lebih dikenal daripada bentuk panjangnya.
Penerbit Buku Deepublish memiliki E-Book Menaklukan Writer’s Block yang dapat membantu anda menyelesaikan permasalahan kebuntuan saat menulis naskah
4. Akronim Istilah Teknologi dan Ilmu Pengetahuan
Dalam bidang teknologi dan sains, akronim digunakan untuk menjelaskan konsep-konsep yang rumit. Misalnya, “AI” adalah singkatan dari “Artificial Intelligence” dan “HIV” adalah “Human Immunodeficiency Virus.”
Akronim ini penting untuk mempercepat komunikasi dalam lingkungan profesional dan akademik. Banyak istilah teknologi yang sulit diingat tanpa penggunaan akronim.
Perbedaan Singkatan dan Akronim
Sekilas, singkatan dan akronim memang terlihat mirip karena sama-sama merupakan bentuk pemendekan dari kata atau gabungan kata. Namun, keduanya memiliki aturan pembentukan dan penulisan yang berbeda sehingga penting untuk kamu pahami agar tidak keliru saat menggunakannya.
1. Pelafalan
Perbedaan paling mudah dikenali antara singkatan dan akronim terletak pada cara membacanya. Singkatan umumnya dilafalkan dengan mengeja setiap huruf penyusunnya. Sementara itu, akronim dilafalkan sebagai sebuah kata yang wajar sesuai kaidah fonologi bahasa Indonesia.
2. Pembentukan Kata
Singkatan dibentuk dengan mengambil huruf awal, beberapa huruf, atau gabungan huruf dari kata tertentu tanpa harus membentuk kata baru yang dapat diucapkan secara utuh. Oleh karena itu, bentuk singkatan lebih berfungsi untuk mempersingkat penulisan daripada menciptakan kosakata baru.
Sebaliknya, akronim dibentuk dari gabungan huruf awal, suku kata, atau kombinasi keduanya hingga menghasilkan bentuk yang dapat dilafalkan seperti kata biasa. Dalam PUEBI, pembentukan akronim juga mempertimbangkan keserasian bunyi sehingga mudah diucapkan dan diingat.
3. Huruf Kapital
Aturan penggunaan huruf kapital pada singkatan dan akronim tidak selalu sama. Banyak singkatan nama lembaga, organisasi, negara, atau istilah tertentu ditulis seluruhnya dengan huruf kapital, misalnya DPR, KPK, PBB, dan UI.
Pada akronim, penulisannya bergantung pada jenisnya. Akronim yang berupa nama diri ditulis dengan huruf awal kapital, seperti Bulog, Bappenas, dan Lapas, sedangkan akronim yang bukan nama diri ditulis seluruhnya dengan huruf kecil, misalnya pemilu, rudal, rapim, dan tilang.
4. Tujuan Penggunaan
Baik singkatan maupun akronim sama-sama bertujuan membuat penyampaian informasi menjadi lebih ringkas. Penggunaannya membantu menghindari penulisan istilah yang terlalu panjang sehingga teks menjadi lebih efisien dan mudah dibaca.
Meski memiliki tujuan yang sama, akronim memberikan kemudahan tambahan karena dapat diucapkan seperti sebuah kata. Itulah sebabnya banyak nama lembaga, program, maupun istilah umum dibentuk menjadi akronim agar lebih praktis digunakan dalam komunikasi lisan maupun tulisan.
5. Penggunaan Tanda Titik
Penggunaan tanda titik pada singkatan bergantung pada jenis singkatannya. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, atau kata umum tertentu masih menggunakan tanda titik, misalnya S.H., M.H., dr., sdr., atau a.n.. Sementara itu, singkatan berupa nama lembaga atau organisasi, seperti KPK, DPR, dan PBB, ditulis tanpa tanda titik.
Akronim tidak menggunakan tanda titik karena diperlakukan sebagai sebuah kata yang utuh. Baik akronim nama diri maupun bukan nama diri ditulis tanpa tanda titik, misalnya Bulog, Bappenas, pemilu, dan puskesmas, sesuai dengan ketentuan dalam PUEBI.
Baca Juga: 100 Contoh Kalimat Retoris
Contoh Akronim
Setelah memahami perbedaan antara singkatan dan akronim, sekarang saatnya kamu melihat contoh penggunaannya dalam berbagai bidang. Berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), akronim dibedakan menjadi beberapa jenis sesuai dengan cara pembentukannya. Berikut contoh-contohnya agar kamu lebih mudah memahami perbedaannya.
1. Akronim Nama Diri Berupa Huruf Awal Setiap Kata
Akronim nama diri berupa huruf awal setiap kata dibentuk dari huruf pertama setiap unsur kata dan ditulis menggunakan huruf kapital tanpa tanda titik. Jenis akronim ini banyak digunakan sebagai nama lembaga, organisasi, institusi pendidikan, maupun badan resmi.
- BIG — Badan Informasi Geospasial.
- BIN — Badan Intelijen Negara.
- LAN — Lembaga Administrasi Negara.
- LIPI — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
- PASI — Persatuan Atletik Seluruh Indonesia.
- PGRI — Persatuan Guru Republik Indonesia.
- PBSI — Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia.
- KONI — Komite Olahraga Nasional Indonesia.
- PRSI — Persatuan Renang Seluruh Indonesia.
- PSSI — Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia.
- PWI — Persatuan Wartawan Indonesia.
- IDI — Ikatan Dokter Indonesia.
- IAI — Ikatan Arsitek Indonesia.
- IBI — Ikatan Bidan Indonesia.
- IKI — Ikatan Konsultan Indonesia.
- PII — Persatuan Insinyur Indonesia.
- HKI — Himpunan Kimia Indonesia.
- IAI — Ikatan Apoteker Indonesia.
- KPID — Komisi Penyiaran Indonesia Daerah.
- KPU — Komisi Pemilihan Umum.
- BPK — Badan Pemeriksa Keuangan.
- BPKP — Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
- BPS — Badan Pusat Statistik.
- BNN — Badan Narkotika Nasional.
- KPAI — Komisi Perlindungan Anak Indonesia.
- MPR — Majelis Permusyawaratan Rakyat.
- DPR — Dewan Perwakilan Rakyat.
- DPD — Dewan Perwakilan Daerah.
- MUI — Majelis Ulama Indonesia.
- UI — Universitas Indonesia.
- ITB — Institut Teknologi Bandung.
- IPB — Institut Pertanian Bogor.
- ITS — Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
- UGM — Universitas Gadjah Mada.
2. Akronim Nama Diri Berupa Gabungan Suku Kata
Akronim nama diri jenis ini dibentuk dari gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata sehingga menghasilkan bentuk yang mudah diucapkan sebagai sebuah kata. Penulisannya menggunakan huruf awal kapital karena mengacu pada nama diri, baik nama lembaga, instansi, wilayah, maupun organisasi.
- Bappenas — Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
- Bulog — Badan Urusan Logistik.
- Bawaslu — Badan Pengawas Pemilihan Umum.
- Kejagung — Kejaksaan Agung.
- Kejari — Kejaksaan Negeri.
- Kejati — Kejaksaan Tinggi.
- Kemenkes — Kementerian Kesehatan.
- Kemendag — Kementerian Perdagangan.
- Kemendikbud — Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Kemenkum — Kementerian Hukum.
- Kemenkeu — Kementerian Keuangan.
- Kemenhub — Kementerian Perhubungan.
- Kemenlu — Kementerian Luar Negeri.
- Kemenpora — Kementerian Pemuda dan Olahraga.
- Kemenkop — Kementerian Koperasi.
- Kemensos — Kementerian Sosial.
- Kementan — Kementerian Pertanian.
- Kemenperin — Kementerian Perindustrian.
- Kemenparekraf — Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
- Lapas — Lembaga Pemasyarakatan.
- Rutan — Rumah Tahanan Negara.
- Akpol — Akademi Kepolisian.
- Akmil — Akademi Militer.
- Akmilud — Akademi Militer Udara.
- Seskoad — Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat.
- Seskoal — Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut.
- Seskoad — Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat.
- Kaltim — Kalimantan Timur.
- Kalteng — Kalimantan Tengah.
- Kalbar — Kalimantan Barat.
- Sumut — Sumatra Utara.
- Sumbar — Sumatra Barat.
- Suramadu — Jembatan Surabaya–Madura.
3. Akronim Gabungan Huruf Awal dan Suku Kata
Berbeda dengan dua jenis sebelumnya, akronim berikut bukan merupakan nama diri. Akronim ini dibentuk dari gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata, kemudian ditulis seluruhnya menggunakan huruf kecil karena telah menjadi kosakata umum dalam bahasa Indonesia.
- pemilu — pemilihan umum.
- pilkada — pemilihan kepala daerah.
- pilpres — pemilihan presiden.
- pileg — pemilihan legislatif.
- pilkades — pemilihan kepala desa.
- puskesmas — pusat kesehatan masyarakat.
- posyandu — pos pelayanan terpadu.
- rudal — peluru kendali.
- tilang — bukti pelanggaran.
- rapim — rapat pimpinan.
- prodi — program studi.
- prolegnas — program legislasi nasional.
- nakes — tenaga kesehatan.
- asn — aparatur sipil negara.
- ormas — organisasi kemasyarakatan.
- ponpes — pondok pesantren.
- pemkot — pemerintah kota.
- pemkab — pemerintah kabupaten.
- pemprov — pemerintah provinsi.
- sekda — sekretaris daerah.
- sekjen — sekretaris jenderal.
- wagub — wakil gubernur.
- wabup — wakil bupati.
- wali kota (sering disingkat menjadi walkot dalam penggunaan informal) — kepala pemerintah kota.
- cabor — cabang olahraga.
- kades — kepala desa.
- kadisdik — kepala dinas pendidikan.
- kadinkes — kepala dinas kesehatan.
- humas — hubungan masyarakat.
- miras — minuman keras.
- narapidana (disingkat menjadi napi) — narapidana.
- pemasyarakatan (dikenal melalui bentuk lapas untuk lembaga pemasyarakatan).
- siskamling — sistem keamanan lingkungan.
Itulah penjelasan lengkap tentang pengertian, jenis-jenis, contoh akronim, serta perbedaannya dengan singkatan. Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan wawasan baru tentang pentingnya akronim dalam kehidupan sehari-hari.
Artikel pertama kali ditulis oleh Dhea Salsabila, kemudian diperbarui oleh Wahyu Adji Nugraha pada 20 Juli 2026.







