Jakarta, 11 Agustus 2026 — Penerbit Deepublish Branch Jakarta sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “H-Index Dosen: Bangun Reputasi Akademik lewat Publikasi Berdampak” pada Selasa, 11 Agustus 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting ini diikuti oleh kurang lebih 400 peserta yang terdiri dari dosen, tenaga pendidik, peneliti, dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Webinar ini menghadirkan Prof. apt. Muchtaridi, Ph.D., Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran sebagai narasumber utama. Webinar ini memberikan pemahaman komprehensif mengenai pentingnya H-Index sebagai indikator produktivitas dan dampak ilmiah seorang peneliti, sekaligus strategi praktis untuk meningkatkan kualitas publikasi akademik.
Dalam paparannya, Prof. Muchtaridi menjelaskan bahwa H-Index merupakan salah satu indikator yang banyak digunakan secara global untuk mengukur produktivitas dan dampak publikasi ilmiah seorang akademisi. Indikator ini tidak hanya mencerminkan jumlah artikel yang dipublikasikan, tetapi juga sejauh mana karya tersebut memberikan pengaruh melalui sitasi yang diterima dari komunitas ilmiah.
Peserta webinar memperoleh pemahaman mengenai cara mengetahui dan memantau H-Index melalui berbagai basis data internasional seperti Scopus, Web of Science, dan Google Scholar. Selain itu, dijelaskan pula bagaimana perbedaan sumber data dapat memengaruhi nilai H-Index yang ditampilkan sehingga penting bagi dosen untuk mengelola profil akademiknya secara aktif dan konsisten. Webinar juga membahas alur publikasi jurnal ilmiah, mulai dari pemilihan jurnal, persiapan naskah, proses submit, revisi, hingga publikasi. Pemahaman terhadap tahapan ini dinilai penting agar penulis dapat meningkatkan peluang diterimanya artikel pada jurnal yang sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing.
Salah satu materi yang mendapat perhatian besar adalah pembahasan mengenai jurnal predator. Narasumber mengingatkan bahwa publikasi pada jurnal yang tidak menerapkan standar ilmiah yang baik dapat merugikan reputasi akademik peneliti. Oleh karena itu, peserta dibekali pengetahuan untuk mengenali ciri-ciri jurnal predator serta langkah-langkah menghindarinya melalui verifikasi indeksasi, proses peer review, dan kredibilitas penerbit.
Lebih lanjut, webinar menekankan bahwa peningkatan H-Index tidak dapat dicapai hanya dengan memperbanyak jumlah publikasi. Faktor utama yang menentukan adalah kualitas penelitian, pemilihan jurnal yang tepat, visibilitas karya ilmiah, serta peluang sitasi dari peneliti lain. Penelitian yang memiliki kebaruan, metodologi yang kuat, dan relevansi tinggi terhadap permasalahan ilmiah cenderung memperoleh dampak yang lebih besar.
Peserta juga memperoleh berbagai strategi untuk meningkatkan dampak publikasi, antara lain memilih jurnal bereputasi yang sesuai dengan ruang lingkup penelitian, membangun kolaborasi riset nasional maupun internasional, serta mengoptimalkan platform akademik seperti Google Scholar, ORCID, ResearchGate, dan jejaring ilmiah lainnya guna meningkatkan visibilitas karya.
Melalui webinar ini, diharapkan para dosen dan peneliti semakin memahami bahwa reputasi akademik dibangun melalui karya ilmiah yang berkualitas, mudah ditemukan, dimanfaatkan, dan memberikan dampak nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan. H-Index bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari kontribusi akademik yang berkelanjutan dan bermakna bagi masyarakat ilmiah global.